Anies Baswedan: Manusia dan Makhluk Hidup dalam Kondisi Mengkhawatirkan

Isu lingkungan

Isu lingkungan sekarang ini kerap disederhanakan dengan slogan Save the Earth. Tapi, Anies Baswedan mengingatkan bahwa cara pandang tersebut perlu diluruskan. Menurut Anies Baswedan, bumi tidak sedang berada di ujung kehancuran, justru manusia dan seluruh makhluk hiduplah yang berada dalam posisi paling menghawatirkan.

Anies menegaskan bahwa bumi telah melewati berbagai fase ekstrem, baik panas maupun dingin, jauh sebelum manusia hadir. Karena itu, persoalan lingkungan sejatinya bukan tentang menyelamatkan bumi, melainkan bagaimana menjaga keberlangsungan kehidupan di atas planet ini.

“Sebagai Makhluk kita hanya meminjam bumi ini dari anak cucu. Maka kita akan mengembalikannya dalam kondisi yang lebih baik,” tegas Anies dalam video yang diunggah di akun pribadi.

Pandangan Anies Baswedan tentang bumi ini mendapat dukungan dari pengamat lingkungan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, Khamim Zarkasih Putro. Ia menilai krisis ekologis saat ini sudah melampaui batas isu sektoral dan telah menjadi persoalan keberlangsungan hidup bersama.

“Kerusakan bumi sejatinya adalah cermin dari pola hidup manusia yang tidak adil terhadap lingkungan. Alam memiliki kemampuan pulih, tetapi manusia dan makhluk hidup lain justru yang paling rentan terdampak,” ujar Khamim saat dihubungi KBA News, Rabu, 21 Januari 2026.

Menurutnya, jika kerusakan lingkungan terus dibiarkan, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh generasi sekarang, tetapi juga akan membebani generasi mendatang.

Tantangan Kerusakan Lingkungan Kian Kompleks

Khamim menjelaskan, ada sejumlah tantangan besar yang mempercepat laju kerusakan lingkungan global.

Pertama, polusi akibat limbah industri dan domestik yang tidak terkelola dengan baik menjadi ancaman serius. Selain mencemari lingkungan, polusi juga berdampak langsung pada kesehatan masyarakat, mulai dari gangguan pernapasan hingga penyakit kronis.

Kedua, pembukaan hutan untuk pertanian, pertambangan, dan urbanisasi menyebabkan hilangnya fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan. Hutan yang seharusnya menyerap karbon justru berubah menjadi sumber emisi gas rumah kaca.

Ketiga, emisi gas rumah kaca memicu kenaikan suhu global, cuaca ekstrem, serta meningkatnya bencana hidrometeorologi. Kondisi ini diperparah dengan hilangnya biodiversitas akibat rusaknya habitat alami dan pencemaran lingkungan.

Solusi Lingkungan Harus Dimulai Sekarang

Menghadapi krisis tersebut, Khamim menilai solusi lingkungan harus dilakukan secara simultan, mulai dari kebijakan negara hingga aksi nyata masyarakat. Beberapa langkah strategis yang perlu diperkuat antara lain:

  • Pengurangan polusi melalui teknologi ramah lingkungan dan pengendalian limbah
  • Reboisasi dan restorasi hutan untuk memulihkan ekosistem
  • Transisi ke energi terbarukan seperti tenaga surya dan angin
  • Pengelolaan limbah berkelanjutan, termasuk pengurangan plastik sekali pakai
  • Pendidikan lingkungan sejak dini untuk membangun kesadaran ekologis

“Tanpa pendidikan lingkungan yang kuat, kebijakan sehebat apa pun akan sulit berjalan efektif,” tegasnya.

Aksi Individu Jadi Kunci Perubahan

Selain kebijakan, peran individu dinilai sangat menentukan. Khamim menekankan bahwa perubahan besar selalu berawal dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten.

Langkah sederhana seperti menghemat air dan listrik, menggunakan transportasi publik atau bersepeda, mengurangi konsumsi daging, serta memilih produk ramah lingkungan dapat berkontribusi menekan emisi gas rumah kaca. “Perubahan besar selalu dimulai dari kebiasaan kecil yang dilakukan secara konsisten,” pungkas Khamim.