Ada enam sifat buruk lidah yang harus dihindari, yakni bohong, gosip, mengungkap rahasia atau aib orang lain, mengutuk dan melaknat, berbicara yang tak bermanfaat, serta berdebat. Saudara muslim sekalian sebisa mungkin kita harus bisa menghindari keburukan tersebut, karena kelak di akherat akan dimintai pertanggungjawabannya dari apa sudah kita perbuat selama hidup didunia.
Hal ini juga berkesesuaian dengan perintah Nabi SAW bahwa keselamatan seseorang tergantung bagaimana ia menjaga lidahnya. Lidah dan ucapan adalah berkah yang besar, yang melaluinya berbagai ibadah lisan, pemenuhan kebutuhan, dan rekreasi jiwa, tetapi juga menjadi mangsa terpenting yang harus diperhitungkan, baik secara negatif maupun positif.
Lidah mencuri perbuatan baik dengan melakukan perbuatan buruk, seperti fitnah, gosip, dusta, makian, hinaan, ejekan, dan lain-lain.
Lidahmu juga bisa menjadi sungai yang mengalir untukmu dengan perbuatan baik yang besar dalam perbuatan sederhana. Misalnya, mengucapkan “Subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah huwallahu akbar. (Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan Allah Mahabesar).
Rasulullah SAW menyampaikan bahwa lafaz dzikir ini merupakan tanaman surga. Semakin banyak dzikir yang disebutkan, semakin banyak tanamannya di surga. Rasulullah dalam hadits riwayat Abdullah bin Masud RA bersabda:
عَن٠ابْن٠مَسْعÙود٠رضي الله عنه قَالَ رَسÙول٠اللَّه٠صَلَّى اللَّه٠عَلَيْه٠وَسَلَّمَ Ù„ÙŽÙ‚ÙÙŠØªÙ Ø¥ÙØ¨Ù’رَاهÙيمَ لَيْلَةَ Ø£ÙØ³Ù’رÙÙŠÙŽ بÙÙŠ Ùَقَالَ يَا Ù…ÙØÙŽÙ…Ù‘ÙŽØ¯Ù Ø£ÙŽÙ‚Ù’Ø±ÙØ¦Ù’ Ø£Ùمَّتَكَ Ù…ÙنّÙÙŠ السَّلَامَ ÙˆÙŽØ£ÙŽØ®Ù’Ø¨ÙØ±Ù’Ù‡Ùمْ أَنَّ الْجَنَّةَ Ø·ÙŽÙŠÙ‘ÙØ¨ÙŽØ©Ù Ø§Ù„ØªÙ‘ÙØ±Ù’بَة٠عَذْبَة٠الْمَاء٠وَأَنَّهَا Ù‚Ùيعَانٌ وَأَنَّ ØºÙØ±ÙŽØ§Ø³ÙŽÙ‡ÙŽØ§ Ø³ÙØ¨Ù’ØÙŽØ§Ù†ÙŽ Ø§Ù„Ù„Ù‘ÙŽÙ‡Ù ÙˆÙŽØ§Ù„Ù’ØÙŽÙ…ْد٠لÙلَّه٠وَلَا Ø¥ÙÙ„ÙŽÙ‡ÙŽ Ø¥Ùلَّا اللَّه٠وَاللَّه٠أَكْبَرÙ
“Dari Abdullah bin Mas’ud RA, Rasulullah SAW bersabda: Aku bertemu dengan Ibrahim pada malam ketika aku diisrakan, kemudian ia berkata, ‘Wahai Muhammad, sampaikan salam dariku kepada umatmu, dan beritahukan kepada mereka bahwa surga debunya harum, airnya segar, dan surga tersebut adalah datar, tanamannya adalah kalimat: subhanallah wal hamdulillah wa laa ilaha illallah huwallahu akbar (Mahasuci Allah, segala puji bagi Allah, tidak ada tuhan yang berhak disembah kecuali Allah, dan Allah Mahabesar).” (HR Tirmidzi).
Kalimat sangat mudah diucapkan bagi seorang muslim, meski tidak semua tahu berat dan besarnya pahala bagi yang rutin membacanya. Inilah pilihan kata terbaik sebagaimana seseorang memilih menu makanan. Sebagaimana kita memilih mereka menu terbaik, recommanded, atau paling populer. Maka inilah menu terbaik untuk Anda dalam hal ucapan.
Diriwayatkan dari sahabat ‘Umar bin Khathab radhiyallahu ‘anhu, beliau suatu ketika menemui Abu Bakar radhiyallahu ‘anhu yang sedang menarik lidahnya. ‘Umar berkata kepada Abu Bakar,
مَهْ. غَÙَرَ الله٠لَكَ
“Ada apa ini, semoga Allah Ta’ala mengampunimu.”
Abu Bakar berkata,
Ø¥Ùنَّ هذَا أَوْرَدَنÙÙŠ Ø§Ù„Ù’Ù…ÙŽÙˆÙŽØ§Ø±ÙØ¯ÙŽ
“Sesungguhnya (lidah) ini menjerumuskan kita dalam banyak masalah.”
(HR. Malik dalam Al-Muwaththa’ 2: 988 dan An-Nasa’i dalam Sunan Al-Kubra no. 11841)
Dan dia berkata: Barang siapa yang banyak bicara, maka jatuhnya berlipat ganda, dan siapa yang lebih sering jatuh, dosanya juga berlipat ganda.
Dikatakan juga, lidah adalah otot, dan di belakangnya ada masalah. Seberapa sering kita membicarakannya, dan betapa sedikitnya kita menjadi tabah di dalamnya, kecuali orang-orang yang dirahmati Allah. Nabi SAW mengatakan: “Muslim adalah orang yang menyelamatkan kaum muslimin dari lidah dan tangannya.
Hadits agung ini menggabungkan ucapan dan tindakan. Meski demikian, ada hama lidah yang harus diwaspadai, antara lain:
Berbohong.
Bohong adalah bukti betapa lemahnya kepribadian orang melakukannya.
Ghibah dan gosip.
Membicarakan keburukan orang lain saja tidak boleh, apalagi dengan cara memfitnah, baik itu berupa perkataan maupun perkataan.
Mengungkapkan rahasia.
Kita dilarang mengungkapkan rahasia orang lain, terlebih aib orang lain.
Mengutuk dan melaknat.
Nabi SAW bersabda: “Para pelaknat tidak akan menjadi pemberi syafaat, dan tidak menjadi saksi pada Hari Kebangkitan”.
Berbicara yang tidak bermanfaat.
Perbuatan ini adalah sekop yang menghancurkan bangunan moral.
Berdebat.
Nabi SAW bersabda: “Saya adalah pemimpin sebuah rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan, bahkan ketika dia benar sekali pun”,. Maksudnya, tinggalkanlah perdebatan meskipun Anda dalam posisi benar, atau dengan memiliki argumentasi yang benar. (hajinews)























