Sinyal Bahwa Era Reformasi Akan Berakhir Ditandai Dengan Penangkapan Aktifis KAMI & Penembakan 6 Laskar FPI

6e17e17d7efdedce.jpg

Masa-masa dimana kebebasan mengeluarkan pendapat, kebebasan pers, kritik terhadap penguasa akan semakin dibatasi bahkan bisa terkena pidana.

"Keji" mungkin kata yang tepat untuk rezim penguasa saat ini, karena semua yang mengkritik penguasa seakan menjadi musuh bagi mereka. Seharusnya jika menjadi pemimpin apalagi presiden, maka kritikan yang datang seharusnya dijadikan acuan agar bisa memimpin sebuah negara lebih baik lagi.

Bukan seperti saat ini yang mengeluarkan pendapat mengkritik seperti dibungkam, media hanya memuji tanpa adanya kritikan, rakyat dan pemerhati politik sedikit saja kritik keras langsung dilaporkan bahkan langsung diciduk.

Sepertinya Era Reformasi yang telah berjalan selama 22 tahun pun tengah menuju akhir hayatnya. Meskipun sejumlah tujuan yang disusun di awal Reformasi relatif belum semua tercapai.

Sinyal era Reformasi ini akan berakhir, menurut Gde Siriana Yusuf, ditandai dengan penangkapan sejumlah aktivis Koalisi Aksi Menyelamatkan Indonesia (KAMI) beberapa waktu lalu. Disusul kemudian dengan kematian tragis yang dialami 6 Laskar Front Pembela Islam (FPI) yang kasusnya saat ini masih dalam penyelidikan Komnas HAM.

"Saya lihat penangkapan aktivis KAMI dan terbunuhnya 6 pemuda laskar FPI, menandai berakhirnya era Reformasi 98," ucap Gde Siriana, Rabu (16/12). 

Ditambahkan Direktur Indonesia Future Studies (INFUS) ini, Indonesia akan masuki era di mana kekuasaan sebagai acuan hidup dan kewenangan sebagai dasar berpikir

"Kekuasaan bukan sebagai sarana, tapi tujuan. Tidak ada lagi diskusi, kecuali instruksi," tandasnya.

Sungguh mengkhawatirkan memang jika era reformasi dan kebebasan berpendapat di negeri ini berakhir, sang penguasa akan semakin otoriter dengan kebijakannya yang tidak bisa lagi ditentang atau di kritik oleh siapapun nantinya.