Pada tahun 2015, Indonesia tengah dilanda "demam batu akik" yang mendunia. Batu akik, yang pada awalnya hanya dianggap sebagai batu biasa, tiba-tiba menjadi primadona bagi para kolektor dan pecinta perhiasan. Namun, setelah demamnya mereda, kepopuleran batu akik terhenti dan menjadi kurang diminati oleh masyarakat. Namun, belakangan ini, keindahan batu akik kembali mencuri perhatian dan perlahan mulai menggeliat kembali.
Batu akik merupakan batu alam yang memiliki keindahan alami dan keragaman warna yang menakjubkan. Dalam dunia perhiasan, batu akik memiliki daya tarik yang unik dan memikat. Dari warna merah delima, biru sapphire, hingga hijau zamrud, setiap jenis batu akik memiliki keindahan dan pesona tersendiri. Sumber batu akik tersebar di seluruh Indonesia, mulai dari Sumatera, Jawa, Kalimantan, Sulawesi, hingga Papua. Setiap daerah memiliki keunikan dan kekhasan batu akik yang menjadi daya tarik sendiri bagi para kolektor.
Setelah sempat redup, minat terhadap batu akik kembali menggeliat, baik dari sisi kolektor maupun para pengrajin perhiasan. Banyak penggemar batu akik yang mulai mengoleksi kembali aneka jenis batu akik, mulai dari yang memiliki warna alami hingga yang telah diolah dengan teknik-teknik tertentu. Selain itu, para pengrajin perhiasan juga mulai memanfaatkan keindahan batu akik untuk menciptakan perhiasan-perhiasan yang unik dan menarik.
Dengan kembalinya demam batu akik, diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi pengrajin yang ikut terlibat dalam industri ini. Hal ini juga diharapkan dapat memberikan dampak positif bagi perekonomian lokal di daerah-daerah penghasil batu akik, sekaligus memperkenalkan keindahan alam Indonesia kepada dunia.
Dengan keunikan dan keindahan alam yang dimilikinya, batu akik kembali mempertahankan posisinya sebagai salah satu komoditas yang diminati. Diharapkan, keberlanjutan dari minat masyarakat terhadap batu akik dapat memberikan dampak positif bagi industri perhiasan dan perekonomian Indonesia secara keseluruhan.























