Meski sebelumnya keduanya bersaing ketat pada pemilihan Presiden Indonesia 2024, belakangan publik dikejutkan dengan sinyal pertemuan antara Anies dan Prabowo. Pada 21 Juni 2024, Anies secara terbuka menyatakan kesiapan untuk berdialog dengan Prabowo demi kepentingan pembangunan nasional dan daerah.
Menurut Anies, dioalog dan komunikasi dengan berbagai tokoh termasuk mantan rival penting agar setiap wilayah di Indonesia maju dan warganya sejahtera.
Dari Musuh Politik ke Komunikasi Terbuka
Pernyataan Anies mendapat respons dari pihak Partai Gerindra partainya Prabowo yang menyatakan bahwa tidak ada yang salah dengan pertemuyan antar tokoh, dan komunikasi politik seperti itu justru baik bagi demokrasi.
Lebih lanjut, pada 29 September 2025, Prabowo menegaskan bahwa ia tidak menyimpan dendam terhadap Anies meskipun sempat jadi lawan politik. Kala itu, Prabowo menyinggung “nilai 11” yang pernah diberikan Anies saat debat Pilpres 2024, namun dengan nada bercanda, menekankan bahwa politik memang keras, dan sekarang saatnya bersatu membangun negara.
Pernyataan tersebut kemudian mendapatkan apresiasi dari sebagian pihak misalnya dari salah satu partai pendukung Anies, yang memuji Prabowo memiliki “gaya kepemimpinan terbuka”.
Signifikansi Pertemuan: Lebih dari Sekedar Silaturahmi
Langkah Anies dan Prabowo untuk membuka komunikasi meskipun pernah bersaing menunjukkan kematangan politik dan semangat rekonsiliasi. Ini bisa membawa sinyal positif bahwa elit politik Indonesia bisa melupakan perbedaan demi kepentingan bersama.
Pertemuan semacam ini penting untuk:
- Pengurangi polarisasi pasca-Pemilu
- Membangun komunikasi antarfaksi agar kebijakan bisa dijalankan dengan lebih inklusif
- Menciptakan stabilitas politik, baik untuk pemerintahan maupun untuk masyarakat luas
Tantangan & Respons Publik
Meski banyak yang menyambut positif, tidak sedikit pula yang skeptic, mempertanyakan apakah pertemuan ini hanya simbolis atau benar-benar akan menghasilkan kolaborasi nyata. Sejumlah pengamat mengatakan bahwa ketegasan terhadap isu kebijakan dan prinsip politik tetap perlu dikedepankan, agar rekonsiliasi tidak sekadar “bergaya”.
Selain itu, p[ertemuan harus dibarengi transparansi dan komitmen terhadap kepentingan publik, tidak sekadar kalkulasi politik.
Catatan & Implikasi ke Depan
Fakta bahwa Prabowo secara terbuka menyatakan “tidak ada dendam” terhadap Anies menunjukkan transformasi dalam budaya politik, rival bisa jadi mitra dialog.
Pertemuan ini bisa membuka jalan bagi koalisi atau kejersama lebih luas di masa depan, terutama jika keduanya mau mengesampingkan edo dan perbedaan partai.
Publik kini menaruh harapan, apakah kolaborasi ini akan berujung pada program konkret yang menyentuh kepentingan rakyat atau hanya manuver politik jelang periode berikutnya.























